MAKNA PAKAIAN


PAKAIAN DAN MAHASISWA
Oleh: Muhamad Taufik Kustiawan (Hukum Pidana Islam) 

Berbagai kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang serba cangih, cepat serta praktis dapat menghasilkan banyak berbagai produk-produk yang beraneka ragam yang dapat digunakan untuk kebutuhan manusia. entah itu kebutuhan primer maupun sekunder. Salah satu aspek yang sangat berkembang dan mempengaruhi kehidupan ialah industri pakaian. Pakaian menjadi kebutuhan primer oleh masyarakat dunia dan perkembangan pakaian sangat segnifikan, hal ini terbukti dengan berbagai macam bentuk pakaian yang beraneka ragam entah dari dunia barat sampai ujung timur.
Pakaian merupakan ekspresi dari identitas seseorang dalam pergaulan sosial. Arti penting pakaian dalam konteks sosial menjadi jelas dan menjadi kulit sosial dalam kebudayaan kita. Pakaian dapat dilihat sebagai “perpanjangan tubuh, namun bukan benar-benar bagian dari tubuh yang tidak saja menghubungkan tubuh dengan dunia sosial, tetapi juga memisahkan keduanya (Wilson, 1985:3). Pakaian menjadi penguasa dalam era global yang berekpresi dalam tampilan kapitalisme mulai dari bentuk dan gaya dalam mendeskripsikan diri sendiri (Laurie, 1995:5). Ini tentu saja tidak berlaku bila kita dipaksa untuk memakai seragam kerena tipe pakaian ini jelas-jelas dimaksudkan untuk mengurangi individualitas sebanyak mungkin demi memaksakan identitas kolektif. Bagaimanapun juga, pada praktiknya “pilihan bebas” kita dalam berpakaian dibatasi oleh macam-macam kaidah sosial, yang menentukan atau menyarankan cara-cara berpakaian tertentu dalam konteks tertentu dan tidak memungkinkan pilihan-pilihan lain, bahkan beresiko jika kita berkeras melanggarnya.
Disadari atau tidak, kaidah-kaidah berpakaian menjadi sarana dalam membentuk dan mereproduksi berbagai kelompok masyarakat, dalam pengertian bahwa ikatan yang terjalin diantara kelompok-kelompok ini menjadi terlihat jelas sehingga sangat sulit dilintasi (Hobsbawm, 1983; Weiner dan Schneider, 1989:1; Eicher, 1995). Negara-negara maupun kelompok-kelompok kepentingan telah menggunakan aturan-aturan berpakaian untuk menciptakan penampilan yang kuat dalam kontrol sosial, kebangsaan, atau solidaritas kelompok. “Negara-negara lama maupun baru telah membangun esprit de corp mereka dengan mencukur, memberi pakaian, memberi vaksin, dan menghitung warga negara mereka, sebagaimana kelas-kelas atas, kelompok-kelompok etnis, gerakan-gerakan keagamaan, dan asosiasi-asosiasi politik cenderung memakai kesadaran diri di atas kulit mereka” (Comaroff dan Comaroff, 1992; 41).
Di negara indonesia yang mayoritas beragama muslim seharusnya memperhatikan benar kaidah-kaidah berpakaian secara syariat, supaya pakaian yang kita kenakan dapat dipertanggungjawabakan secara publik ataupun individu agar tidak memicu hal-hal yang tidak di inginkan akibat melihat seseorang berpenampilan. Awal globalisasi masyarakat indonesia selalu meniru sistem-sistem yang relatif terbuka ; pengaruh –pengaruh dari luar dan dari penafsiran-penafsiran setempat mereka merupakan dan bidang bagi kebudayaan-kebudayaan setempat. Definisi-definisi dari periode-periode terakhir yang menandai tipe-tipe kain dan pakaian tertentu sebagai “asli” lebih banyak bercerita tentang mereka yang membuat kategorisasi tersebut dari pada tentang benda-benda yang mereka klasifikasikan (Cohn, 1996b) dalam buku (Henk Schulte Nordholt, 2005;14). Era globalisasi memicu banyak model-model pakaian yang tidak sesuai dengan syari’at islam, sebagai contoh pakaian model zaman sekarang “you can see” yang artinya kamu boleh melihat. Bahkan dalam pertelevisian, majalah, iklan dalam berpakaian mati-matian mengenakan pakaian yang menjulang keatas agar terlihat tampilan yang modernis mengikuti zaman modern.
Pandangan saya tentang berpakaian bergerak pada dunia pendidikan, Dunia pendidikan di universitas mempunyai visi dan misi yang sangat menjunjung nilai moral serta akhlak yang tinggi, tentunya tidak terlepas dari berbagai peraturan-peraturan. Entah peraturan moral,etika, bahkan menyangkut peraturan kode etik berpakaian. Akhir-akhir ini melalui pengamatan empiris saya diantara mahasiswa dan mahasiswi institut Agama Islam Negeri (IAIN SURAKARTA) Khususnya Mahasiswa-mahasiswi Fakultas Syariah sebagian, mulai mengidolakan pakaian-pakaian barat maupun Asia. Mulai dari berpenampilan seksi, libstik tebal, celana ketat,bahkan baju ketat sampai terlihat lekukan tubuh yang menggiurkan, ataupun model berpakaian “you can see” dengan Rok Siffomnya. Ini menjadi ironi, stigma, ataupun catatan buruk ketika bidang yang mereka geluti adalah syariah yang seharusnya mengusai dan paham apa itu syariah, akan tetapi realitas berbanding terbalik dengan penguasaan bidangnya.
Observasi yang saya lakukan berkaitan dengan peraturan kode etik berpakaian mahasiswa-mahasiswi fakultas Syariah sudah teratur dalam No.8 Tahun 2014 Bab IV pasal 6 Ayat 4 Standart Pakaian Mahasiswa Fakultas Syariah melarang bahwa (bagi Laki-laki) memakai kaos obling/ tidak berkerah, celana atau baju sobek, sarung, sandal, sepatu sandal, topi, rambut bercat, anting-anting, kalung, gelang, dan tato dalam mengikuti kegiatan dikampus. (bagi perempuan) memakai pakaian ketat, tembus pandang dan tanpa jilbab dalam mengikuti kegiatan di kampus. Peraturan yang sudah dibuat hanya menjadi ajang formalitas yang menjadi hal semu belaka. Pelangaran demi pelangaran masih merajalela, berharap ada ketegasan dari penguasa pembuat peraturan kode etik berpakaian.
Dalam buku Henk Schulte Nordholt (ed.) Outward Appearances, pakaian bukan mempersoalkan gairah intelektualitas melainkan persoalan kedudukan sosial, Trend, Identitas, Kepentingan. Maka ada pepatah jawa “ajineng diri ana ing lathi, Ajineng rago ana ing Busono.” Kehormatan diri terletak pada kata-kata, kehormatan raga terletak pada pakaian. Hal ini menjadi menarik ketika pakaian dihadapkan dalam persoalan agama, politik, ekonomi, hukum atau memang pakaian menjadi poin + dalam mempengaruhi intelektualitas mahasiswa

Launching Barter Buku dan Apresiasi Karya Untuk IAIN Surakarta




Launching Barter Buku dan Apresiasi Karya Untuk IAIN Surakarta:

Launching Barter Buku dan Apresiasi Karya Untuk IAIN Surakarta

Diterbitkan tanggal 23 Desember 2015
SINAR – Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Dinamika mengadakan kegiatan bertajuk “Desember Dinamika”yang berfokus pada buku selama sepekan yang diadakan pada Senin hingga Sabtu (14-19/12). Dalam agenda ini LPM Dinamika mengadakan Bazar Buku di lokasi di hall perpustakan pusat serta agenda Launching Barter Buku, Dinamika Apresiasi, dan dialog bertema Buku Sebuah Pergolakan Batin, dan Bedah Buku “Pemikiran Filsafat Harun Nasution: Pengembangan Pemikiran Islam di Indonesia”, pada Kamis (17/12) di  Gedung Auditorium (Graha) IAIN Surakarta.
Agenda Rabu (16/12), menyelenggerakan dialog mahasiswa yang bertema “Launching Barter Buku, Dinamika Apresiasi dan Buku Sebuah Pergulatan Batin”. Acara ini sebagai peresmian barter buku yang nantinya setiap pojok fakultas akan diberi fasilitas berupa rak berisi buku yang disediakan LPM Dinamika. Nantinya mahasiswa yang ingin membaca dan meminjam, harus meninggalkan buku milik pribadi walaupun dengan judul berbeda. Sedangkan Dinamika Apresisasi merupakan ajang memberi penghargaan kepada 10 nomisasi bagi mahasiswa, dosen dan karyawan IAIN Surakarta.
“Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penyegar dan pengingat kembali bahwa kehidupan mahasiswa dan civitas akademika tidak akan pernah terlepas dari kehadiran buku. Sedangkan Dinamika Apresiasi adalah ajang memberikan penghargaan kepada para dosen, karyawan, dan mahasiswa agar senantiasa berkarya pada bidang masing-masing,” papar Abdul Aziz Masrury selaku Ketua LPM Dinamika.
Selanjutnya Dr. Syamsul Bakri selaku wakil rektor III dalam sambutannya mengatakan bahwa acara ini sangat kreatif. “Saya sangat mengapresiasi rangkaian kegiatan yang diselenggararan LPM Dinamika karena benar-benar inovatif dan peduli terhadap karya seseorang,” tutur Syamsul.
Di sisi yang lain, Syamsul memberikan kritik bahwa rangkaian acara kurang sinkron dengan arah maupun ranah pergerakan LPM Dinamika yang basisnya bergelut pada bidang penelitian.
Dalam rangkaian Launching Barter Buku menghadirkan narasumber Dr. Mudhofir dan Dr. Imro’atus Sholihah. Keduanya menyampaikan nostalgia dan perkenalannya dengan buku hingga mempunyai beberapa karya. Diharapkan kisah para pembicara dapat menginspirasi peserta untuk terus membaca dan berkarya. Mudofir menyampaikan ketika seseorang ingin hidup dikenal dunia, haruslah memiliki karya terutama dalam bentuk tulisan, sebab tulisan membuat orang terkenang lama bahkan selamanya. (Rofiq Iqbal)

Membuku

Siapa hiduap tanpa tujuan dia orang khilaf, siapa pandai tanpa membaca dia bodoh, siapa ingin besar tanpa menulis dia hilaf. detik detik permainan hidup dimulai saat hadir di dunia, siapa yang memutuskan dia yang menentukan.
Dinamika bermisi menghidupan imajinasi berbuku, imajinasi menjadi manusia berkata-bercerdas, bertuliskan kalimat satire dan wagu. misi itu hidup dan bersemayam sejak di daulat "Desember Dinamika", tajuk berentetan agenda wagu lugu dan tak pasti hasilnya. UKM Dinamika bisa ngomong belum beraksi karena banyak pembual yang muncul dan hadir. Anggota yang cantik sok menjadi artistik, ingin rasa mengusir tapi hidup tak ada wanita rasanya sepi. Ada pria sok kaya berlagak sok ahli buku tapi sungguh dia penghacur kepala, ambisinya wedokan dan wedokkan ambisinya lanangan, sungguh akan banyak penyesalan.
hidup mesti di arungi samudra yang berliku. setiap saat aku lantunkan doa kebaikan, doa yang membaca pencerahan. tapi bila laku dari kawanku itu bertolak dari doaku niscaya akan muncul banyak kehancuran. Aku msaih yakin dengan generasi yang melihatku yang akan mendengar cerita-ceritaku. Mereka akan mulai bergaya dengan hidup berdiskusi membaca buku  Kisah ini menginspirasi 5 tahun, 10 tahaun, 20 tahun. pasti akan ada yang muncul menjadi jawara. Di persimpangan yang lain mereka akan selalu nmemanggilku, memintaku untuk mengajarinya mengobrolkan sesuatu yang tak pasti. semoga akan terjadi! Begitu

UTAMA

LPM Dinamika IAIN Surakarta Berikut Finalis 10 Besar Call For Paper Dies Natalis ke-XIX UKM LPM Dinamika IAIN Surakarta Bagi ...

POPULER